Wednesday, June 13, 2012

Migran Batak Toba di Batavia


Migran Batak Toba di Batavia

Sesudah tahun 1900 ada beberapa orang dari Tapanuli yang dibawa oleh Belanda sebagai pembantu dan pekerjanya ke Batavia. Pada waktu itu Batavia sudah menjadi tempat mencari pekerjaan bagi orang-orang yg datang dari daerah lain di pulau jawa atau sumatera. Salah seorang pemuda kristen batak yang dianggap angkatan pertama datang ke Batavia untuk mencari pekerjaan ialah Simon Hasibuan, seorang tamatan Seminari Pansurnapitu, Tarutung. Dia sampai ke Batavia pada tahun 1907(Sihombing, 1961).

Nainggolan mengemukakan bahwa sekitar tahun 1908, sudah mulai berdatangan orang batak ke Batavia untuk mencari pekerjaan. Dari antara mereka ada yang mengalami kesulitan karena dasar pendidikan mereka yang kurang memadai, akibatnya ada yang kembali ke Tapanuli tetapi ada juga yang tetap bertahan walaupun mereka lebih lama untuk memperoleh pekerjaan yang diinginkannya. Sebagian lagi lebih mudah mendapat pekerjaan karena latar belakang pendidikannya membantu mereka memperoleh pekerjaan. Mereka agak segan mengakui dirinya orang batak, karena kata 'batak' memberi arti yg 'kurang sedap' pada waktu itu. Itulah salahsatu sebab tidak banyak yang mencantumkan marga dibelakang namanya. Disamping itu, kaum pendatang masih dianggap 'kafir' oleh penduduk setempat.

Selain mencari pekerjaan, tahun-tahun selanjutnya sudah mulai ada yang melanjutkan pendidikannya pada sekolah-sekolah lanjutan. Tahun 1913 baru 5 orang yang melanjutkan pendidikannya, diantaranya J.K Panggabean. Sejak tahun 1915 pemuda-pemuda batak tamahan HIS Sigompulon-Tarutung semakin banyak yang melanjutkan pendidikannya, diantaranya ke Kwekschool Gunung Sahari, K.W.S, Stovia dan lain-lain. Sebagian lagi tamatan sekolah Melayu dan sekolah Zending datang untuk mencari pekerjaan di Batavia. Orang-orang yang terlebih dulu datang, ada yang sudah bekerja seperti di jawatan Tofografi, yang mengukur tanah, gunung dan membuat peta-peta. Namun ada juga yang kembali ke Tapanuli dengan alasan tertentu walaupun mereka telah bekerja di Batavia. Hezekiel.M.Manulang, misalnya, yang tinggal selama 2 tahun(1914-1916) dan bekerja pada gereja Methodist di Patekoan memilih kembali ke Tapanuli dan membangun gerakanpolitik disana untuk menentang maksud pengusaha Belanda yang hendak membuka perkebunan di Silindung.

Demikian juga Lamsana Lumbantobing yang bekerja sebagai pendeta Methodist di jalan Ketapang, kembali ke Tarutung dan membuka kursus Bahasa Inggris disana. Walaupun ada yang kembali tetapi jumlah yang tinggal di Batavia cenderung semakin banyak, karena selalu munculnya pendatang baru. Simon Hasibuan seorang bekas guru Zending yang bekerja pada jawatan Kadaster dipandang sebagai 'orang tua' dari pemuda-pemuda batak yang tinggal di Batavia.

Pada tahun 1917 sudah terdapat 30 orang Kristen batak yang tinggal di Batavia. Lima diantaranya sudah berumah tangga dan sebagian lagi terdiri dari pemuda yang melanjutkan sekolah di sekolah teknik(Ambactschool), perawat di R.S CBZ(RSUP sekarang), R.S Cikini, dan R.S  KPM Petamburan(simatupang & Pardede,1986). Sebagian besar dari mereka tinggal di Sawah Besar.Dalam mengikuti kebaktian minggu ada yang memasuki Gereja Katolik, Methodist, Gereformeede Kerk, Indische Kerk dan gereja lainnya. Bagi yang menguasai bahasa Belanda, mereka tidak segan-segan mengikuti kebaktian yang berbahasa Belanda. Dalam kurun waktu beberapa tahun itu,mereka bukan tidak rindu mengikuti kebaktian berbahasa daerah, sebagaimana di kampung halamannya.

Guru Frederik Harahap, seorang tamatan Seminari Depok dan Ds.L.Tiemersma(dari gereja Gereformeede)memulai pelayanan bagi pemuda batak sejak pertengahan 1917. Atas jasa-jasabaik Ds.Tiemersma, Gereja Kwitang menyewa 3 rumah yang terletak di perbatasan Sawah besar dengan Kebun Jeruk No.18. Satu dari rumah itu ditempati oleh keluarga Gr.Harahap dan dua lagi untuk pemuda-pemuda tersebut. Hal ini jelas lebih memudahkan tugas Ds.Tiemersma karena dia dapat melayani mereka dalam satu tempat. Upaya yang ditempuh Ds.Tiemersma adalah menyatukan mereka dalam satu kumpulan Kristen Protestan, sebagaimana yang diinginkan dari Tapanuli(Hasibuan,1922).

Bersamaan dengan itu tugas Ny.Harahap pun menjadi ganda, sebagai Ibu Rumahtangga sekaligus juga Ibu Asrama. Dampak positif lainnya bagi pendatang baru atau yang ingin datang ke Batavia adalah kesedian Gr.Harahap menerima mereka dirumahnya, sebagaimana diberitahukan dalam 'Surat Keliling Imanuel', yaitu majalah mingguan Huria Kristen batak yang di cetak di Laguboti. Dalam Pemberitahuan itu Harahap menuliskan:
"Siapa saja dari antara bapak dan ibu yang akan memberangkatkan anaknya ke Batavia, untuk melanjutkan pendidikan atau mencari pekerjaan, agar lebih jelas datanglah ke alamat saya. Alamatku: F.Harahap, tinggal di perbatasan Sawah besar dan Kebun jeruk, no.18, Batavia"(Simatupang dan Pardede,1986).

Pengumuman itu dapat mendorong seseorang, terutama yang tidak mempunyai keluarga di Batavia untuk datang mengadu nasib ke Batavia. Dapat dibayangkan bahwa ada yang langsung menuju alamat di atas dan bergabung dengan kawan-kawan satu kampung, marga, suku. Kerinduan mereka terhadap kebaktian yang berbahasa batak pun semakin muncul ke permukaan seiring dengan jumlah mereka yang terus bertambah. Pada 20 September 1919, mereka memindahkan kebaktiannya dari Gang Chasse(jalan Kemakmuran sekarang) ke tempat Bybel School di Pasar baru.

Sejak saat itu dimulailah kebaktian berbahasa daerah yang dipimpin oleh Gr.Simon Hasibuan, Gr.Frederik Harahap dan Sutan Harahap. Pada waktu itu jumlah anggota jemaat sebanyak 50 orang, diantaranya Merari Siregar, seorang tokoh angkatan Balai Pustaka, penulis Azab dan Sengsara. Situasi kehidupan yang lebih baik mendorong sebagian besar dari mereka pindah ke daerah yang lebih baik, yaitu daerah Kwitang dan meninggalkan daerah Sawah Besar, daerah yang berawa itu. Sejalan dengan itu, pada November 1919 kebaktian pun diadakan di gedung HIS Kwitang (Simatupang & Pardede,1986).

Dalam beberapa tahun, warga Kristen Batak yang tinggal di Batavia masih terus merindukan agar mereka dilayani oleh pendeta batak atau yang diutus oleh Huria Kristen batak yang berpusat di Tarutung. Upaya ke arah itu sudah dimulai tahun 1919 dengan membentuk Majelis jemaat dan kemudian berlanjut dengan permohonan kepada Ephorus Warneck. Apa yang mereka harapkan belum dapat dipenuhi. Barulah pada Januari 1922, tibalah Pdt.Mulia Nainggolan di Batavia, dialah pendeta Huria Kristen Batak yang pertama di kota itu dan seluruh pulau Jawa. Kehadiran Pdt.Nainggolan merupakan realisasi permohonan majelis jemaat Batavia dan sekaligus tindak lanjut penggembalaan Huria Kristen Batak terhadap anggota jemaatnya yang tinggal di Pulau Jawa. Taklama kemudian keluarlah surat ijin dari Gubernur Jendral Belanda di Batavia pada tanggal 21 Maret 1922, sejak itu Pdt.Nainggolan semakin berketetapan hati untuk melayani orang-orang Kristen Batak yang ada di Batavia.

Dalam Tahun pertama bertugas di kota itu, Pdt.Nainggolan menghadapi kesulitan-kesulitan, salah satunya ialah pada masa dukacita. Untuk biaya penguburan misalnya, dibutuhkan sekitar 60-90 Gulden, jumlah yang sangat tidak kecil pada waktu itu. Dana Sebesar itu memang dapat diperoleh dari Asisten Residen di Batavia, tetapi harus melalui beberapa tahapan yang kadang-kadang sulit dilalui(Nainggolan,1922). Kesulitan memperoleh dana sebesar itu biasanya terjadi apabila seseorang yang mendapat kemalangan belum didaftarkan sebagai anggota jemaat Huria Kristen Batak Batavia,sehingga pengumpulan dana dari anggota pun sulit dan prosedur yg harus dilalui untuk mendapatkan bantuan pemerintah pun butuh waktu. Kesulitan inilah yang menjadi latar belakang lahirnya perkumpulan "Haholongan", yang anggotanya orang Batak yang beragama Kristen dan Islam. Organisasi ini khusus didirikan untuk suatu perkumpulan yang berhubungan dengan kemalangan atau dukacita.

Kehadiran beberapa Keluarga anggota militer menambah jumlah orang Batak di Batavia. Pada Oktober 1923 beberapa keluarga Kristen Batak yang bertugas di bagian Kemiliteran pindah ke Batavia. Terdapat 77 orang termasuk istri dan anak-anak yang pindah dari Yogyakarta dan ditempatkan di Batalyon 11.11.16 Meester Cornelis atau Jatinegara sekarang(Nainggolan,1923). Beberapa bulan sebelumnya sebanyak 45 orang pemuda yang belum bekerja dikirim dari Batavia ke Bandung untuk mengikuti kursus kondektur dan sebagian besar dinyatakan lulus dan ditempatkan di Bandung, Bogor, Surabaya, Batavia dan lain-lain. Pada Tahun itu diperkirakan jumlah orang Batak yang tinggal di Batavia lebih dari 300 orang dengan pekerjaan sebagai pegawai dan militer serta sebagian yang melanjutkan pendidikannya.

Selain organisasi 'Haholongan' didirikan lagi organisasi seperti 'Bataks Voetbal Vereniging'(BVV), yaitu organisasi di bidang olahraga yang dipimpin oleh J.K Panggabean, yang juga termasuk 'orang lama' di Batavia. Kemudian berdiri lagi 'Bataksbond', yaitu perkumpulan kebangsaan/kesukuan yang bergerak di bidang politik. Para pemuda pelajar membentuk 'Jong Batak'. Dalam organisasi itu terdapat nama-nama seperti Amir Syarifuddin Harahap(kemudian pernah menjadi Perdana Mentri), Ferdinand Lumbantobing(pernah menjadi Menteri Penerangan R.I) dan nama lainnya. Selain merupakan alat pengikat, organisasi tersebut berperan sebagai pengikat gengsi sekaligus menaikkan derajat mereka di kalangan suku-suku bangsa lain. Semua anggota perkumpulan merasa bersaudara walaupun berlainan agama dan berasal dari daerah yang berbeda di Tapanuli. Mereka mencapai kemajuan dalam berbagai hal, kebanyakan disebabkan karena perasaan kedaerahan, 'tidak mau kalah' dalam arti yg positif.

Akhir tahun 1920-an semakin banyak pemuda tamatan HIS dari Tapanuli melanjutkan pendidikannya atau mencari pekerjaan ke Batavia. Mereka tinggal di rumah teman atau famili yang telah lebih dulu datang. Pemuda-pemuda yang datang lebih dulu dan sudah bekerja, kedudukannya sudah semakin meningkat dan sebagian dari mereka telah membentuk rumah tangga. Pada umumnya mereka masih tergolong pada pegawai rendah, rata-rata berpangkat 'Klerk' kebawah dan sebagian kecil diatasnya. Disamping itu beberapa orang telah bekerja sebagai Guru, seperti di HIS Kwitang, Noormaalschool di Jatinegara dan tempat lain. Pada sensus 1930, jumlah orang batak yang tinggal di Batavia sebanyak 1.253 jiwa dan sebagian besar terdiri dari Batak Toba dan selebihnya Batak Angkola, Mandailing dan lain-lain.(Castles,1967).

Sama halnya dengan didaerah lain, orang batak Toba di Batavia pun ingin mempunyai gereja sendiri karena dengan demikian mereka dapat mengikuti ibadah dengan bahasa daerah. Pdt.Peter Tambunan yang menggantikan Pdt.M.Nainggolan memprakarsai pembangunan gereja HKBP. Setelah mendapat ijin dan tempat dari Walikota(Burgermeester) yaitu di Gang Kernolong no.37, maka dimulailah pembangunan gereja tahun 1931. Peletakan batu pertama dilangsungkan pada 21 November 1931 oleh walikota Batavia. Pemborong bangunan ialah J.M Sitinjak dari jalan Muria, Menteng, yaitu salah seorang tokoh batak yg lama tinggal di Batavia. Dalam kurun waktu 6 bulan, Gereja itu telah selesai dibangun dan peresmiannya diadakan pada hari Minggu, 8 Mei 1932(Pakpahan,1986).

Tahun-tahun berikutnya semakin banyak pemuda yang melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi. Di sekolah Teologia terdapat nama seperti K.Ritonga, G.Siahaan(kelak menjadi Ephorus HKBP, periode 1974-87), dan A.Sitorus. Di sekolah Hakim Tinggi ada A.M Tambunan(kelak menjadi Menteri Sosial R.I) dan di Hoogere Theologische School ada T.S Sihombing(kelak menjadi Ephorus HKBP,periode 1961-74), K.M Sitompul. Pada waktu itu sudah dibentuk perkumpulan pemuda Kristen Batak yaitu 'Sauduran' untuk warga Huria Kristen Batak(HKBP) dan 'Boni Na Uli' untuk warga Punguan Kristen Batak(PKB). (sumber: Migran Batak Toba, O.H.S Purba)


Sumber:
http://sibabiat.multiply.com/journal/item/86/Migran_Batak_Toba_di_Batavia?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

No comments:

Post a Comment